Cekidot ya brooo…
Dari hasil penelitian analisi perbedaan perilaku kader sebelum dan setelah pelatihan penemuan kasus baru (CDR) TB Paru ini didapat beberapa karakteristik responden sebagai kader TB Paru, diantaranya adalah jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, lama menjadi kader, dan pekerjaan responden selain menjadi kader TB Paru.
Dalam kamus bahasa Indonesia, jenis kelamin diartikan sebagai perbedaan yang nampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi dan tingkah laku. Dari 44 Kader TB Paru yang terdapat di Samarinda Utara pada tahun 2009 distribusi penyebarannya menurut jenis kelamin lebih banyak berjenis kelamin perempuan, dengan jumlah 33 orang (75%) dan yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 11 orang (25%). Walaupun banyak anggapan bahwa yang berjenis kelamin laki-laki adalah seorang pekerja keras, namun dalam hal ini justru yang berjenis kelamin perempuan yang terlihat lebih agresif dan tinggi produktifitasnya. Hal ini sejalan dengan hasil analisa sikap kader yang menyatakan bahwa hanya 9,1% yang berjenis kelamin laki-laki yang memiliki sikap positif pada saat pre test, dan 30,3% yang berjenis kelamin perempuan yang memiliki sikap positif.
Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu kinerja seseorang, baik yang berhubungan dengan fisik, daya fikir maupun tingkat produktivitas. Kader yang berumur lebih muda biasanya akan lebih kuat, agresif dan relatif lebih produktif dibandingkan dengan kader yang sudah berumur tua yang biasanya tingkat produktifitasnya cenderung menurun tetapi mempunyai pengalaman yang lebih. Responden pada penelitian ini lebih banyak yang berusia 49 tahun, yaitu berjumlah 6 orang (13,6%) dan selebihnya banyak tersebar di umur 45-60 tahun. Rata-rata usia responden yang ada merupakan responden yang berada pada masa produktivitas tinggi, dan masih mudah menyerap materi-materi pelatihan yang di berikan.
Hal ini sejalan dengan batasan yang diberikan Notoatmodjo (2007) bahwa usia erat kaitannya dengan kemampuan psikologis dan fisik seseorang dalam memperoleh pengetahuan tentang pentingnya peran kader dalam usaha penemuan kasus baru TB Paru melalui pelatihan. Demikian pula dengan adanya penerimaan suatu pengetahuan baru, umumnya golongan usia produktif akan lebih mudah dalam mengadopsi pengetahuan baru.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada post test terdapat 18 orang responden yang memiliki pengetahuan baik yang berada pada kelompok umur 45 tahun kebawah, 18 orang responden pada kelompok umur 45-60 tahun, dan 2 orang di atas 60 tahun yang pengetahuannya baik. Pengukuran post test sikap responden, ditemukan bahwa paling banyak yang memiliki sikap positif terdapat pada kelompok umur 45 tahun kebawah. Begitu juga dengan hasil analisa tindakan kader, kebanyakan yang memiliki tindakan positif berada pada kelompok umur dibawah 45 tahun.
Tingkat pendidikan seseorang, akan sangat mempengaruhi peningkatan kemampuan pengetahuan, sikap, dan tindakan. Kader yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi diharapkan lebih baik dalam hal peningkatan perilaku penemuan kasus baru TB Paru di Kecamatan Samarinda Utara. Dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang, khususnya kader dalam menerima suatu perubahan perilaku. Semakin tingkat pendidikan kader diharapkan cara berfikir akan menjadi lebih rasional sehingga kader semakin terarah dalam mengikuti atau berpartisipasi dalam suatu program kegiatan guna meningkatkan kemampuan pengetahuan, sikap, maupun tindakan dalam penemuan kasus baru TB Paru.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat post test hanya kader yang memiliki tingkat pendidikan sarjana yang 100% mengalami peningkatan pengetahuan. Pada pengukuran sikap didapat bahwa yang mengalami peningkatan secara signifikan adalah tingkat SMA, yaitu sebanyak 43,8%. Hasil penelitian tenrhadap tindakan kader, didapat kenaikan jumlah responden yang tindakannya postif pada tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 42,1% dan tingkat sarjana sebanyak 13,2%.
April 12, 2011
Kategori: Kesehatan Masyarakat . Yang berkaitan: rCDR, Epidemiologi, kader TB Paru, Kesehatan Masyarakat, Promosi Kesehatan, samarinda, Samarinda Utara, Skripsi Kesmas, Tubercullosa, Tuberkulosis . Penulis: Hendri Syahputra . Komentar: Tinggalkan sebuah Komentar